SOLO, SKALANEWS.ID – Gelaran Emparty Art Fest 2026 tak hanya menjadi panggung bagi para seniman menampilkan karya terbaiknya. Festival yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, menghadirkan pesan yang lebih luas, yakni menjadikan seni sebagai penggerak kepedulian sosial, ruang kolaborasi lintas komunitas, sekaligus penguat ekosistem ekonomi kreatif.
Selama sepekan penyelenggaraan, festival bertema “Art for Humanity” itu mempertemukan pelaku seni, budayawan, komunitas kreatif, akademisi, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum dalam satu ruang yang sama.
Beragam agenda digelar mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan budaya, lokakarya, diskusi publik, creative market, hingga aksi sosial.
Wali Kota Solo Respati Ardi menilai konsep yang diusung Emparty Art Fest sejalan dengan upaya memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya yang terbuka terhadap kolaborasi dan inovasi.
Menurutnya, seni tidak hanya berbicara mengenai estetika, tetapi juga memiliki kemampuan membangun kepedulian, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta menjadi sarana pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
“Kehadiran Emparty Art Fest menjadi ruang yang mempertemukan seniman, budayawan, komunitas kreatif, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam satu semangat yang sama, yaitu menjadikan seni sebagai media untuk membangun kepedulian, memperkuat kemanusiaan, dan merawat kebudayaan bangsa,” ujar Respati, Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan, festival seperti ini memberikan manfaat yang lebih luas dibanding sekadar pertunjukan seni. Kegiatan tersebut membuka ruang dialog, edukasi, kolaborasi hingga mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang melibatkan banyak pelaku usaha lokal.
Respati juga mengapresiasi penyelenggara yang menghadirkan ruang inklusif bagi berbagai kelompok, mulai dari komunitas difabel, generasi muda, pelaku UMKM kreatif hingga para empu dan pelestari budaya.
Menurutnya, semakin banyak ruang kolaboratif seperti Emparty Art Fest, semakin besar peluang Solo memperkuat identitasnya sebagai kota budaya yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus sosial.
“Ketika seni bertemu dengan nilai-nilai kemanusiaan, lahir ruang yang inklusif, tempat setiap orang dapat berkarya, berkolaborasi, dan saling menguatkan,” katanya.
Festival tersebut juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha menilai konsep Emparty menjadi contoh bagaimana seni mampu menyatukan berbagai latar belakang dalam semangat kemanusiaan.
Menurut Giring, makna empati tidak cukup hanya dipahami sebagai perasaan, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi antarkomunitas.
“Seni mempersatukan kita. Siapa pun kita adalah bagian dari keluarga besar umat manusia. Empati tidak cukup hanya dirasakan, tetapi harus dirayakan, dipraktikkan, dan diwujudkan melalui kolaborasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Seniman Merdeka Barata Sena mengatakan Emparty Art Fest dirancang bukan sekadar menjadi hiburan atau ruang apresiasi karya seni. Festival ini diharapkan mampu menginspirasi lahirnya gerakan kepedulian sosial yang melibatkan lebih banyak pihak.
Menurutnya, perubahan akan lebih mudah diwujudkan ketika semangat empati dibangun secara bersama-sama dibanding dilakukan secara individual.
“Harapan kami, kepedulian yang dilakukan bersama akan menjadi lebih ringan. Empati harus dijalankan dengan sukacita, dan semangat itulah yang ingin dihadirkan melalui Emparty Art Fest,” pungkasnya.***

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.