PMS Bangkitkan Lagi Seni di Solo, Wayang Orang hingga Karawitan Pernah Lima Kali Juara

PMS kembali menghidupkan tradisi seni di Solo melalui karawitan dan gamelan, sekaligus membuka peluang mengembangkan kembali wayang orang yang pernah berjaya.

chat_bubble_outline 0
PMS Hidupkan Lagi Tradisi Seni yang Pernah Berjaya, Wayang Orang hingga Karawitan Mulai Dibangkitkan

SOLO, SKALANEWS.ID – Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) sedang mencoba membuka kembali lembaran lama perjalanan seninya.

Organisasi yang kini memasuki usia 94 tahun itu mulai menghidupkan kembali aktivitas budaya yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarahnya, dari karawitan hingga wayang orang.

Langkah tersebut bukan semata agenda peringatan ulang tahun.

PMS ingin memberikan ruang baru bagi kesenian tradisional sekaligus mempertemukannya dengan generasi yang berbeda. Gamelan kembali dimainkan, kelompok anak-anak dan pelajar mendapat panggung, sementara rencana mengembangkan kembali sendratari dan wayang orang mulai dibicarakan.

Jejak kejayaan seni PMS sebenarnya bukan cerita baru.

Penanggung Jawab Eksibisi Gamelan PMS dan Pemerintah Kota Surakarta, Iwan Jasmoro, mengungkapkan kelompok wayang orang PMS pernah mencatat prestasi dengan menjadi juara dalam kejuaraan Piala Ibu Tien Soeharto selama lima tahun berturut-turut.

Piala bergilir dari kejuaraan tersebut hingga kini masih tersimpan di PMS.

“Wayang orang PMS di beberapa puluh tahun yang lalu itu sempat menjuarai kejuaraan Piala Ibu Tien Soeharto bahkan PMS menang sebanyak lima tahun berturut-turut,” kata Iwan.

Catatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa aktivitas seni kembali mendapat perhatian.

Bagi PMS, sejarah itu bukan sekadar untuk dikenang. Ada keinginan agar seni kembali menjadi bagian dari kehidupan organisasi dan masyarakat, meski bentuk serta tantangannya kini berbeda.

Salah satu langkah awal terlihat dari pengaktifan kembali Gamelan PMS yang sempat tidak aktif.

Gamelan tersebut ditampilkan dalam Eksibisi Karawitan bertajuk “Nguri-uri Budaya Jawi” di Gedung Pertemuan PMS Surakarta, Sabtu (15/8/2026).

Panggung tidak hanya diberikan kepada kelompok yang sudah lama berkesenian.

Kelompok karawitan dari lima kecamatan di Kota Solo, yakni Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari, Laweyan dan Serengan, ikut tampil.

Pelajar SMA Regina Pacis Surakarta serta kelompok karawitan anak-anak SD binaan Dinas Pariwisata Kota Surakarta juga mendapat kesempatan tampil.

Total delapan kelompok ikut meramaikan eksibisi tersebut.

Kehadiran anak-anak dan pelajar menjadi bagian penting dari upaya regenerasi. Sebab, menjaga kesenian tradisional bukan hanya persoalan mempertahankan alat musik atau panggung pertunjukan, tetapi memastikan masih ada generasi yang mau belajar dan memainkannya.

Penanggung Jawab Eksibisi Gamelan PMS dan Pemerintah Kota Surakarta, Iwan Jasmoro, berharap pengaktifan kembali gamelan dapat mendorong masyarakat untuk kembali mengenal dan mengembangkan budaya Jawa.

“Mudah-mudahan dengan mulai diaktifkannya kembali gamelan PMS ini bisa menarik minat masyarakat untuk kembali mengenal budayanya, mengingat budayanya dan mengembangkan budaya Jawi,” ujarnya.

Kebangkitan aktivitas seni PMS juga tidak dibangun dengan menutup diri dari kebudayaan lain.

Dalam eksibisi tersebut, Gamelan PMS dikolaborasikan dengan Yang Khim dan Erhu. Pertemuan alat musik tersebut menjadi salah satu gambaran akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang telah menjadi bagian dari perjalanan Kota Solo.

Iwan berharap komunitas Tionghoa juga dapat ikut mengambil bagian dalam upaya melestarikan budaya Jawa.

Menurutnya, gamelan tidak harus dimainkan dalam ruang yang tertutup. Instrumen tradisional Jawa itu tetap dapat berdialog dengan alat musik lain.

“Budaya Jawi khususnya gamelan ini adalah sesuatu yang sebenarnya sangat indah, dari suaranya yang bening menenangkan hati dan tidak menutup kemungkinan untuk mengkolaborasikan dengan alat musik yang lain,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, pelestarian budaya tidak semata-mata berarti mengulang bentuk kesenian masa lalu.

Tradisi tetap memiliki akar, tetapi diberi ruang untuk berkembang dan bertemu dengan kebudayaan lain.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani turut tampil dalam eksibisi tersebut. Astrid berkolaborasi bersama Gamelan PMS dan Yang Khim PMS bersama seniman karawitan Endah Laras.

Ia menilai keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar budaya tetap memiliki masa depan.

“Kita ingin budaya Jawa tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari masa depan,” kata Astrid.

Menurut Astrid, karawitan juga mengajarkan bagaimana perbedaan dapat menghasilkan harmoni.

Setiap instrumen memiliki fungsi dan karakter masing-masing, tetapi seluruhnya harus dimainkan bersama. Prinsip itu, menurutnya, juga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang memiliki perbedaan latar belakang.

Ketua Umum PMS Sumartono Hadinoto mengatakan seni dan budaya telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi sejak dahulu.

Selain wayang orang, PMS juga memiliki sejarah dalam karawitan, gamelan dan berbagai kegiatan musik.

Kini, PMS ingin kembali mengambil bagian dalam pelestarian budaya Jawa dengan membuka ruang kegiatan yang lebih luas.

Tidak hanya eksibisi, ke depan terdapat rencana mengembangkan kegiatan seni lainnya, termasuk sendratari dan wayang orang.

Artinya, piala yang masih tersimpan di PMS tidak hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu.

Ada upaya untuk menjadikannya pijakan menuju masa depan.

Jika rencana tersebut berjalan, PMS tidak sekadar merawat sejarah organisasi yang berusia 94 tahun.

Mereka sedang mencoba menghidupkan kembali tradisi seni yang pernah berjaya, lalu mempertemukannya dengan generasi baru.

Sebab, sebuah kesenian baru benar-benar lestari bukan ketika sejarahnya terus diceritakan, melainkan ketika masih ada orang yang mau memainkannya.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya