Bandara Bali Utara Dikebut, Pesawat Jumbo hingga Airbus A380 Disiapkan Mendarat di Buleleng

Pembangunan Bandara Bali Utara di Kubutambahan dipercepat. Bandara ini disiapkan melayani Boeing 777 hingga Airbus A380 serta menjadi penggerak ekonomi Bali Utara

chat_bubble_outline 0
Bandara Udara Bali Utara (Foto: Wikipedia/SKALANEWS)

BULELENG, SKALANEWS.ID – Rencana pembangunan Bandara Bali Utara di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, kembali bergerak.

Pemerintah mendorong proyek yang diproyeksikan menjadi bandara internasional kedua Bali itu agar segera masuk ke tahap pembangunan.

Bandara tersebut sejak awal dirancang bukan untuk sekadar menambah kapasitas penerbangan. Landasan dan fasilitas pendukungnya disiapkan untuk melayani pesawat berbadan lebar, termasuk Boeing 777 hingga Airbus A380.

Komisaris Utama PT Pembangunan Bali Mandiri (PEMBARI), Baringin Panggabean, menyampaikan perkembangan proyek tersebut saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, 14 Juli 2026. Pertemuan itu turut dihadiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Baringin menjelaskan, Bandara Bali Utara sejak tahap perencanaan memang dirancang dengan standar internasional. Infrastruktur sisi udara, landasan pacu hingga fasilitas pendukung disiapkan agar mampu mengakomodasi operasional pesawat berbadan lebar.

Menurut dia, rancangan teknis tersebut mengacu pada studi kelayakan (feasibility study) yang telah memperoleh persetujuan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Penjelasan itu menjadi penting karena salah satu perhatian Presiden Prabowo dalam pembahasan proyek tersebut adalah kesiapan bandara untuk melayani penerbangan internasional jarak jauh dengan pesawat berukuran besar.

Pemerintah menargetkan pembangunan Bandara Bali Utara dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga tahun sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat.

Proyek ini direncanakan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha atau KPBU. Dengan pola tersebut, investasi badan usaha akan menjadi bagian penting dalam pembiayaan pembangunan tanpa sepenuhnya membebani APBN.

Di sisi lain, pemerintah tidak menyiapkan Bandara Bali Utara sebagai satu-satunya fasilitas penerbangan di kawasan tersebut.

Lapangan Terbang Letkol Wisnu juga akan tetap memiliki fungsi, tetapi dengan skala berbeda.

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023, Bandara Bali Utara diarahkan sebagai bandara umum untuk penerbangan komersial, termasuk pesawat berbadan lebar.

Sementara Letkol Wisnu akan difokuskan untuk pesawat ringan dan private jet.

Pembagian fungsi tersebut kembali dibahas dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan pada 30 Juli 2026.

Di sekitar Letkol Wisnu telah berkembang permukiman padat. Kawasan tersebut juga dikelilingi perbukitan di sisi selatan, barat dan timur, sementara bagian utaranya berbatasan dengan kawasan mangrove dan laut.

Faktor budaya turut diperhitungkan. Sejumlah pura sakral berada di kawasan perbukitan sekitar lapangan terbang dan memiliki sejarah panjang.

Kondisi tersebut membuat pengembangan Letkol Wisnu sebagai bandara internasional berkapasitas besar dinilai memiliki tantangan yang lebih kompleks.

Karena itu, Bandara Bali Utara di Kubutambahan diproyeksikan mengambil peran sebagai fasilitas penerbangan internasional utama di Bali Utara.

Arahan percepatan kembali disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 20 Juli 2026. Bandara Bali Utara termasuk proyek yang masuk dalam RPJMN 2025-2029.

Jika terealisasi, konfigurasi penerbangan Bali Utara akan terbagi jelas.

Letkol Wisnu melayani pesawat kecil dan private jet, sedangkan Bandara Bali Baru menangani penerbangan komersial internasional dengan pesawat berbadan lebar.

Bagi pemerintah, pembangunan tersebut diharapkan tidak berhenti pada urusan konektivitas.

Bandara baru itu diproyeksikan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di Bali Utara melalui peningkatan investasi, pariwisata, perdagangan, logistik, jasa dan penciptaan lapangan kerja.

Dengan target pembangunan sekitar tiga tahun, tantangan berikutnya adalah memastikan rencana besar tersebut benar-benar bergerak dari meja perencanaan menuju pembangunan fisik di Kubutambahan.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya