Makan Bergizi Gratis 94 Siswa SDN 2 Jati Batal Dibagikan, Sempat Tiba Lalu Ditarik, Ternyata Ini Penyebabnya

Makan Bergizi Gratis 94 siswa SDN 2 Jati batal dibagikan setelah makanan sempat tiba lalu ditarik. SPPG Jati mengungkap penyebab penarikan tersebut

chat_bubble_outline 0
Makan Bergizi Gratis 94 Siswa SDN 2 Jati Batal Dibagikan, Makanan Sempat Tiba Lalu Ditarik (Foto: SKALANEWS)

KARANGANYAR, SKALANEWS.ID – Sebanyak 94 siswa SDN 2 Jati, Kecamatan Jaten, Karanganyar, batal menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (12/8/2026).

Makanan sempat tiba di sekolah, tetapi belum sempat diturunkan ketika kendaraan pengantar kembali membawa makanan tersebut.

Guru SDN 2 Jati, Roni, mengatakan kendaraan pengantar MBG tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, setelah mendapat informasi dari SPPG, makanan tidak jadi diturunkan dan langsung dibawa kembali.

“Mobilnya datang, terus belum sampai diturunkan sudah langsung kembali lagi,” kata Roni pada wartawan, Rabu (12/8/2026).

Roni memastikan makanan tersebut belum sempat dibagikan kepada siswa. Kendaraan hanya masuk ke lingkungan sekolah sebelum akhirnya kembali membawa makanan.

Sebanyak 94 siswa SDN 2 Jati seharusnya menerima MBG pada hari tersebut. Pihak sekolah kemudian menyampaikan informasi kepada siswa bahwa MBG tidak jadi dibagikan.

Menurut Roni, pemberitahuan itu disampaikan karena siswa biasanya menunggu makanan setelah waktu istirahat.

“Terus diinfokan ke siswa, soalnya biasanya siswa menunggu. Habis istirahat makan, kok MBG-nya belum datang,” ujarnya.

Roni mengatakan informasi yang diterima sekolah menyebutkan sebagian kecil menu ayam dinilai kurang layak konsumsi sehingga distribusi MBG untuk hari itu dihentikan.

Untuk sementara, informasi yang diterima sekolah menyebut penghentian distribusi hanya berlaku pada hari tersebut. Saat wawancara dilakukan, belum ada informasi lanjutan mengenai distribusi MBG pada hari berikutnya.

Kepala SPPG Jati, Abra Yodara, membenarkan makanan tersebut ditarik sebelum dibagikan.

Menurut Abra, keputusan itu diambil setelah tim menemukan indikasi masalah pada menu ayam rempah yang diproduksi dalam batch kedua.

Abra menjelaskan proses produksi batch pertama berjalan aman. Masalah baru terdeteksi ketika proses memasuki batch kedua yang mulai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB.

Saat proses pemasakan berlangsung, staf bersama ahli gizi melaporkan adanya masakan ayam yang aroma dan rasanya dinilai berbeda dari kondisi normal.

Abra kemudian langsung menuju dapur untuk melakukan pemeriksaan.

“Saya langsung ke dapur, saya kroscek,” kata Abra.

Dari pemeriksaan tersebut, Abra mengatakan terdapat dua baskom ayam yang terindikasi bermasalah. Namun, ia menegaskan tidak seluruh isi baskom tersebut mengalami kondisi yang sama.

“Saya cek itu ada dua baskom yang bermasalah. Itu tidak semuanya rusak,” ujarnya.

Menu yang diperiksa merupakan ayam rempah. Abra mengatakan bahan ayam tersebut dalam pemeriksaan awal saat diterima dari pemasok masih dalam kondisi baik.

Indikasi masalah baru terlihat ketika bahan masuk dalam proses pemasakan batch kedua.

Abra memperkirakan sekitar 10 persen bahan ayam mengalami kondisi yang tidak sesuai. Namun, angka tersebut belum merupakan hasil penghitungan pasti dan masih berupa perkiraan berdasarkan pemeriksaan internal SPPG.

“Baru perkiraan kami,” katanya.

Setelah menemukan indikasi tersebut, Abra mengambil keputusan untuk tidak mendistribusikan makanan dari batch kedua.

“Daripada ada apa-apa, makanan untuk batch kedua tidak didistribusikan,” ujarnya.

Makanan yang tidak jadi didistribusikan kemudian dimusnahkan oleh pihak SPPG.

Abra mengatakan kejadian tersebut merupakan yang pertama dialami SPPG Jati.

Bahan ayam yang digunakan untuk menu tersebut berasal dari pemasok di wilayah sekitar. Setelah kejadian itu, SPPG Jati akan memperketat pemeriksaan bahan baku, termasuk proses pemilihan pemasok.

“Yang jelas kami akan memperketat lagi yang namanya pemilihan supplier,” kata Abra.

Pengawasan internal juga akan diperkuat melalui briefing tim sebelum proses produksi. Pengarahan mencakup tahapan pemasakan hingga pemorsian agar setiap proses dapat dipantau lebih ketat.

Abra memastikan produksi MBG untuk distribusi berikutnya tetap berjalan sesuai jumlah yang telah ditentukan.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya